Minggu, 08 Januari 2017

Pentingnya Etika

PENTINGNYA BER-ETIKA DALAM KEHIDUPAN

 Assalamu'alaikum wr.wb
           Baiklah disini saya akan membahas tentang " Pentingnya Ber-Etika dalam Kehidupan ". Ada banyak etika, adab dan sopan santun dalam berbicara yang diketahui dan dianut oleh masyarakat. Salah satu acuan yang dapat kita pedomani adalah " Etika Berbicara dalam Islam "



           Ada seorang sahabat Nabi SAW. dimana nama sahabat tersebut adalah Tsabit bin Qais. Disini saya akan menceritakan sebuah kisah tentang Tsabit bin Qais dimana Tsabit bin Qais ini adalah soerang juru bicara Rasulullah SAW. dan juru bicara Islam.

           Pada suatu masa, utusan-utusan dari semenanjung Arabia datang menemui Rasulullah. Ketika itu, utusan dari Bani Tamim menunjuk Utharid bin Hajib sebagai juru bicara mereka. Selain mengungkapkan maksud kedatangan mereka, Utharid juga mengungkapkan kelebihan-kelebihan dari Bani Tamim dengan sangat bangga.

           Setelah itu, Rasulullah meminta Tsabit bin Qais untuk berdiri dan berbicara sebagai juru bicara Rasulullah. Tsabit pun berdiri, dengan tegas dan keras ia berkata, “Alhamdulillah segala puji bagi Allah. Langit dan bumi adalah ciptaan Allah. Titah Allah berlaku di langit dan bumi. Ilmu Allah meliputi kerajaan-Nya. Allah menciptakan kita berbangsa-bangsa dan bersuku-suku melalui kuadrat-Nya. Allah telah memilih makhluk-Nya yang terbaik untuk menjadi seorang Rasul-Nya. Rasul-Nya adalah orang yang berwibawah dan jujur. Allah membekalinya dengan Al-Quran dan memberinya dengan amanat. Rasul-Nya telah membimbing ke jalan persatuan umat. Dia adalah manusia pilihan Allah. Dia juga menyeru manusia untuk beriman kepada Allah. Kemudian kaum Anshar dan Muhajirin menjadi pengikutnya. Kami adalah pembela agama Allah dan penyokong Rasul-Nya".

           Tsabit adalah seorang yang berakhlak mulia, ia sangat mengutamakan ketakwaannya kepada Allah. Ia selalu menghadapkan jiwanya kepada Allah semata. Hal ini terbukti ketika turun ayat 18 Surat Luqman, “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. “ Mendengar ayat itu, Tsabit menutup pintu rumahnya dan menangis. Hal itu berlangsung cukup lama. Ketika Rasulullah mendengar kejadian itu, Rasulullah segera memanggil dan bertanya kepada Tsabit. Tsabit mengatakan bahwa dirinya menyukai pakaian dan sepatu/alas kaki yang bagus sehingga ia sangat takut dirinya termasuk orang-orang yang sombong dan membanggakan diri. Mendengar perkataan Tsabit, Rasulullah tertawa dan berkata, “Wahai Tsabit, engkau bukan termasuk golongan mereka. Bahkan, engkau hidup dengan kebaikan dan engkau akan wafat dengan masuk surga".

           Pada suatu ketika Rasulullah menerima wahyu, ayat 2 surat Al-Hujurat, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari”. Ketika mendengar ayat itu, Tsabit menutup pintu rumahnya dan menangis lagi. Kemudian, Rasulullah mengirim seseorang untuk memanggil Tsabit. Tsabit pun datang menemui Rasulullah. Ketika ditanya, Tsabit menjawab, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku adalah seorang yang bersuara keras. Aku juga pernah meninggikan suaraku hingga lebih keras dari pada suaramu, ya Rasulullah. Dengan demikian, amalanku selama ini akan terhapus. Apabila hal itu terjadi, aku akan masuk neraka. dan Rasulullah SAW. menjawab “Wahai Tsabit, engkau bukanlah termasuk golongan mereka. Engkau akan hidup terpuji dan mati syahid di medan perang. Allah pun akan memasukkan ke dalam surga”.

           Tsabit tidak hanya pandai dalam hal berbicara dan berakhlak mulia, ia juga menyertai perjuangan Rasulullah di medan perang. Ia ikut bertempur di medan perang Uhud dan peperangan sesudah itu. Dengan gagah berani, ia menumpas musuh-musuh Allah. Ia selalu berada di barisan tentara terdepan dengan membawa bendera Anshar. Tsabit juga ikut dalam peperangan di Yamamah. Ia dan tentara Muslim yang lain bertempur untuk menumpas nabi palsu, Musailamah Al-Kadzdzah, dan pengikutnya. Dalam pertempuran itulah, Tsabit bin Qais gugur sebagai syuhada. Dengan demikian, terbuktilah perkataan Rasulullah, Tsabit benar-benar mati syahid. Sungguh, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal shaleh orang-orang yang mati syahid di jalan-Nya.

           Dari kisah di atas tersebut bahwa di dalam lam islam bisa dikatakan bahwa etika bicara itu merupakan menjaga lisan dalam mengkomunikasikan sesuatu, karena setiap kata-kata yang diucapkan kita bisa mendapat pahala apabila perkataan itu baik. Ajaran Islam amat sangat serius memperhatikan soal menjaga lisan sehingga Rasulullah SAW. bersabda:
            "Barangsiapa yang memberi jaminan kepadaku (untuk menjaga) apa yang ada antara dua janggutnya (lisan) dan apa yang ada antara dua kakinya (kema-luannya) maka aku menjamin Surga untuknya." (HR. Al-Bukhari).

             Allah berfirman dalam Q.S An - Nisa : 114 yang artinya:
 
            "Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali bisik-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat ma`ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia".(An-Nisa: 114)

           Jadi kita dapat mengambil Ibrah dari cerita di atas adalah : 
1. Menjaga Lisan
              Seorang muslim wajib menjaga lisannya, tidak boleh berbicara batil, dusta, menggunjing, mengadu domba dan melontarkan ucapan-ucapan kotor, dan apa yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya. Banyak orang yang tidak menyadari dampak luar biasa dari kata-kata. Padahal Nabi Muhammad SAW. bersabda:

  "Sungguh seorang hamba berbicara dengan suatu kalimat yang membawa keridhaan Allah, dan dia tidak menyadarinya, tetapi Allah mengangkat dengannya beberapa derajat. Dan sungguh seorang hamba berbicara dengan suatu kalimat yang membawa kemurkaan Allah, dan dia tidak mempedulikannya, tetapi ia menjerumuskan-nya ke Neraka Jahannam" (HR. Bukhari).

2. Berkata Baik atau Dia
    Berkata baik atau diam adalah berhati-hati dan memikirkan terlebih dahulu sebelum berkata-kata. Setelah direnungkan bahwa kata-kata itu baik, maka hendaknya ia mengatakannya. Sebaliknya, bila kata-kata yang ingin diucapkannya jelek, maka hendaknya ia menahan diri dan lebih baik diam. Rasulullah SAW. bersabda:

 "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaknya ia berkata yang baik atau diam." (HR. Al-Bukhari)
           Al- Qur’an Surat Al Israa' Ayat 53 :
 
“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: " Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.”
Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: 
 "… Dan kalimat yang baik adalah sedekah. Dan setiap langkah yang ia langkahkan untuk shalat (berjamaah di masjid)adalah sedekah, dan menyingkirkan duri dari jalan adalah sedekah."(HR.Al-Bukhari).
  
3. Merendahkan Suara Ketika Berbicara
    Meninggikan suaranya, berteriak dan membentak, itu tidak kita sebaiknya pada saat kita berbciara kepada orang lain seharusnya merendahkan suara kita janganlah berbicara dengan suara  yang lantang atau keras. Bila sebagai pemimpin, maka dia adalah pemimpin yang ditakuti oleh bawahannya. Bukan karena kewibawaan dan keteladanannya, tapi karena suaranya yang menakutkan. Bila sebagai bawahan, maka dia adalah orang yang tak tahu diri.
   
           Al-Quran Surat Al Hujuraat Ayat 3:
“Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.”
          Allah berfirman, artinya:
"Dan rendahkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai."(QS.Luqman:19).
           Bagi wanita sangat beresiko sekali apabila merendahkan suara dengan tunduk, karena dalam ayat Al-Qur’an Surat Al Ahzab, kata tunduk tersebut ialah berbicara dengan sikap menimbulkan seseorang akan bertindak atau berperilaku tidak baik. Seperti tertulis dalm Surat Al-Ahzab Ayat 32 yang artinya:
“Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik,”
 4. Berbicara Harus Menatap Lawan Bicara
     Ketika ada salah seorang teman kita sedang berbicara janganlah melihat ke arah lain sehingga membuat lawan bicara tersinggung. Tataplah  lawan bicara kita supaya lawan bicara kita tidak sakit hati ataupun tersinggung. Obyek anda adalah lawan bicara bukan yang lain.

                  Jangan tinggalkan etika ketika kita sedang berkomunikasi dengan orang lain. Kita sendiri juga pasti tersinggung jika ada orang lain mengajak bicara ketika tiba-tiba memandang  ke tempat yang lain.
 5. Tidak berkata keji dan mencela 
     Rasulullah saw bersabda
“Bukanlah seorang mukmin jika suka mencela, melaknat dan berkata-kata keji.” (HR. Tirmidzi dengan sanad shahih)
     Maksud dari hadits di atas adalah bahwa bukanlah seorang mukmin yang suka sering mencela atau berkata yang tidak baik dan dengan kata lain bahwa orang-orang yang beriman adalah orang-oran yang selalu berbicara dalam kebaikan. Atau dapat juga dikatakan bahwa orang-orang yang suka berkata keji itu bukanlah termasuk ke dalam golongan orang-orang yang beriman. Untuk itu, jika seseorang mengaku bahwa dirinya telah beriman kepada Allah swt maka tidak ada lagi kata-kata keji yang akan    terlontar dari mulutnya.
 6. Tidak memotong maupun memonopoli pembicaraan

                 Berikanlah kesempatan kepada orang lain atau teman untuk menyampaikan gagasan, pendapat atau curhatannya. Jangan suka memonopoli pembicaraan orang lain tau teman kita. Sikap memonopoli pembicaraan dapat menyinggung perasaan pendengar, karena ia merasa dianggap bodoh dan tidak tahu apa-apa.
      Tunggulah hingga lawan bicara menyelesaikan pembicaraannya, jangan menyela atau memotong ucapannya. Tentunya hal ini akan membuat kesal dan tersinggung lawan bicara. Anda akan dianggap tidak memiliki etika jika memotong pembicaraan seseorang.
      Demikianlah Islam telah mengatur etika atau adab-adab dalam berbicara agar pembicaraan tidak menjadi sebuah media yang akan menjerumuskan seseorang dalam kubangan dosa, namun menjadi media yang akan membawa seseorang dan umat menuju rahmat dan surganya Allah swt.
      Baiklah teman-teman bahwa perlu kita ketahui bahwa etika itu sangatlah penting dalam kehidupan kita sehari-hari terutama etika dalam berbicara. Semoga apa yang saya sampaikan ini dapat bermanfaat dan memberikan motivasi untuk kita semua. Amin.
Assalamu'alaikum wr.wb