PENTINGNYA BER-ETIKA DALAM KEHIDUPAN
Assalamu'alaikum wr.wb
Baiklah disini saya akan membahas tentang " Pentingnya Ber-Etika dalam Kehidupan ". Ada banyak etika, adab dan sopan santun dalam berbicara yang
diketahui dan dianut oleh masyarakat. Salah satu acuan yang dapat kita pedomani
adalah " Etika Berbicara dalam Islam "

Ada seorang sahabat Nabi SAW. dimana nama sahabat tersebut adalah Tsabit bin Qais. Disini saya akan menceritakan sebuah kisah tentang Tsabit bin Qais dimana Tsabit bin Qais ini adalah soerang juru bicara Rasulullah SAW. dan juru bicara Islam.
Pada suatu
masa, utusan-utusan dari semenanjung Arabia datang menemui Rasulullah.
Ketika itu, utusan dari Bani Tamim menunjuk Utharid bin Hajib sebagai
juru bicara mereka. Selain mengungkapkan maksud kedatangan mereka,
Utharid juga mengungkapkan kelebihan-kelebihan dari Bani Tamim dengan
sangat bangga.
Setelah itu, Rasulullah meminta Tsabit bin Qais untuk berdiri dan
berbicara sebagai juru bicara Rasulullah. Tsabit pun berdiri, dengan
tegas dan keras ia berkata, “Alhamdulillah segala puji bagi Allah.
Langit dan bumi adalah ciptaan Allah. Titah Allah berlaku di langit dan
bumi. Ilmu Allah meliputi kerajaan-Nya. Allah menciptakan kita
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku melalui kuadrat-Nya. Allah telah
memilih makhluk-Nya yang terbaik untuk menjadi seorang Rasul-Nya.
Rasul-Nya adalah orang yang berwibawah dan jujur. Allah membekalinya
dengan Al-Quran dan memberinya dengan amanat. Rasul-Nya telah membimbing
ke jalan persatuan umat. Dia adalah manusia pilihan Allah. Dia juga
menyeru manusia untuk beriman kepada Allah. Kemudian kaum Anshar dan
Muhajirin menjadi pengikutnya. Kami adalah pembela agama Allah dan
penyokong Rasul-Nya".
Tsabit adalah seorang yang berakhlak mulia, ia sangat mengutamakan
ketakwaannya kepada Allah. Ia selalu menghadapkan jiwanya kepada Allah
semata. Hal ini terbukti ketika turun ayat 18 Surat Luqman, “Dan
janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan
janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah
tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
“ Mendengar ayat itu, Tsabit menutup pintu rumahnya dan menangis. Hal itu
berlangsung cukup lama. Ketika Rasulullah mendengar kejadian itu,
Rasulullah segera memanggil dan bertanya kepada Tsabit. Tsabit
mengatakan bahwa dirinya menyukai pakaian dan sepatu/alas kaki yang
bagus sehingga ia sangat takut dirinya termasuk orang-orang yang sombong
dan membanggakan diri. Mendengar perkataan Tsabit, Rasulullah tertawa
dan berkata, “Wahai Tsabit, engkau bukan termasuk golongan mereka.
Bahkan, engkau hidup dengan kebaikan dan engkau akan wafat dengan masuk
surga".
Pada suatu ketika Rasulullah menerima wahyu, ayat 2 surat Al-Hujurat,
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu
melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara
yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian
yang lain supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak
menyadari”. Ketika mendengar ayat itu, Tsabit menutup pintu rumahnya dan
menangis lagi. Kemudian, Rasulullah mengirim seseorang untuk memanggil
Tsabit. Tsabit pun datang menemui Rasulullah. Ketika ditanya, Tsabit
menjawab, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku adalah seorang yang bersuara
keras. Aku juga pernah meninggikan suaraku hingga lebih keras dari pada
suaramu, ya Rasulullah. Dengan demikian, amalanku selama ini akan
terhapus. Apabila hal itu terjadi, aku akan masuk neraka. dan Rasulullah SAW. menjawab “Wahai Tsabit,
engkau bukanlah termasuk golongan mereka. Engkau akan hidup terpuji dan
mati syahid di medan perang. Allah pun akan memasukkan ke dalam surga”.
Tsabit tidak hanya pandai dalam hal berbicara dan berakhlak mulia, ia
juga menyertai perjuangan Rasulullah di medan perang. Ia ikut bertempur
di medan perang Uhud dan peperangan sesudah itu. Dengan gagah berani, ia
menumpas musuh-musuh Allah. Ia selalu berada di barisan tentara
terdepan dengan membawa bendera Anshar. Tsabit juga ikut dalam
peperangan di Yamamah. Ia dan tentara Muslim yang lain bertempur untuk
menumpas nabi palsu, Musailamah Al-Kadzdzah, dan pengikutnya. Dalam
pertempuran itulah, Tsabit bin Qais gugur sebagai syuhada. Dengan
demikian, terbuktilah perkataan Rasulullah, Tsabit benar-benar mati
syahid. Sungguh, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal shaleh orang-orang
yang mati syahid di jalan-Nya.
Dari kisah di atas tersebut bahwa di dalam lam islam bisa dikatakan bahwa etika bicara itu merupakan
menjaga lisan dalam mengkomunikasikan sesuatu, karena setiap kata-kata yang
diucapkan kita bisa mendapat pahala apabila perkataan itu baik. Ajaran Islam
amat sangat serius memperhatikan soal menjaga lisan sehingga Rasulullah SAW. bersabda:
"Barangsiapa yang memberi jaminan kepadaku (untuk menjaga)
apa yang ada antara dua janggutnya (lisan) dan apa yang ada antara dua kakinya
(kema-luannya) maka aku menjamin Surga untuknya." (HR. Al-Bukhari).
Allah
berfirman dalam Q.S An - Nisa : 114 yang artinya:
"Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali
bisik-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat
ma`ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia".(An-Nisa: 114)
Jadi kita dapat mengambil Ibrah dari cerita di atas adalah :
1. Menjaga Lisan
Seorang muslim wajib menjaga lisannya, tidak boleh berbicara
batil, dusta, menggunjing, mengadu domba dan melontarkan ucapan-ucapan kotor, dan apa yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya. Banyak orang yang tidak menyadari dampak luar
biasa dari kata-kata. Padahal Nabi Muhammad SAW. bersabda:
"Sungguh seorang hamba berbicara dengan suatu kalimat
yang membawa keridhaan Allah, dan dia tidak menyadarinya, tetapi Allah
mengangkat dengannya beberapa derajat. Dan sungguh seorang hamba berbicara dengan
suatu kalimat yang membawa kemurkaan Allah, dan dia tidak mempedulikannya,
tetapi ia menjerumuskan-nya ke Neraka Jahannam" (HR. Bukhari).
2. Berkata Baik atau Dia
Berkata baik atau diam adalah berhati-hati dan
memikirkan terlebih dahulu sebelum berkata-kata. Setelah direnungkan bahwa
kata-kata itu baik, maka hendaknya ia mengatakannya. Sebaliknya, bila kata-kata
yang ingin diucapkannya jelek, maka hendaknya ia menahan diri dan lebih baik
diam. Rasulullah SAW. bersabda:
"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir,
maka hendaknya ia berkata yang baik atau diam." (HR. Al-Bukhari)
Al- Qur’an Surat Al Israa' Ayat 53
:
“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: " Hendaklah
mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu
menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh
yang nyata bagi manusia.”
Nabi Shallallaahu
alaihi wa Salam bersabda:
"… Dan kalimat yang baik adalah sedekah. Dan setiap
langkah yang ia langkahkan untuk shalat (berjamaah di masjid)adalah sedekah,
dan menyingkirkan duri dari jalan adalah sedekah."(HR.Al-Bukhari).
3. Merendahkan Suara Ketika Berbicara
Meninggikan suaranya, berteriak dan membentak, itu tidak kita sebaiknya pada saat kita berbciara kepada orang lain seharusnya merendahkan suara kita janganlah berbicara dengan suara yang lantang atau keras. Bila sebagai
pemimpin, maka dia adalah pemimpin yang ditakuti oleh bawahannya. Bukan karena
kewibawaan dan keteladanannya, tapi karena suaranya yang menakutkan. Bila
sebagai bawahan, maka dia adalah orang yang tak tahu diri.
Al-Quran
Surat Al Hujuraat Ayat 3:
“Sesungguhnya orang-orang yang
merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah
diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala
yang besar.”
Allah berfirman, artinya:
"Dan rendahkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk
suara adalah suara keledai."(QS.Luqman:19).
Bagi wanita sangat beresiko sekali apabila merendahkan suara
dengan tunduk, karena dalam ayat Al-Qur’an Surat Al Ahzab, kata
tunduk tersebut ialah berbicara dengan sikap menimbulkan seseorang akan
bertindak atau berperilaku tidak baik. Seperti tertulis dalm Surat Al-Ahzab Ayat 32
yang artinya:
“Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti
wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam
berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan
ucapkanlah perkataan yang baik,”
4. Berbicara Harus Menatap Lawan Bicara
Ketika ada salah seorang teman kita sedang berbicara janganlah melihat ke arah lain sehingga membuat lawan bicara tersinggung. Tataplah lawan bicara kita supaya lawan bicara kita tidak sakit hati ataupun tersinggung. Obyek anda adalah lawan bicara bukan yang lain.
Jangan tinggalkan etika ketika kita sedang berkomunikasi dengan orang lain. Kita sendiri juga pasti tersinggung jika ada orang lain mengajak bicara ketika tiba-tiba memandang ke tempat yang lain.
5. Tidak berkata keji dan mencela
Rasulullah saw bersabda :
“Bukanlah seorang mukmin jika suka mencela, melaknat dan berkata-kata keji.” (HR. Tirmidzi dengan sanad shahih)
Maksud dari hadits di atas adalah bahwa bukanlah seorang mukmin yang suka sering mencela atau berkata yang tidak baik dan dengan kata lain bahwa orang-orang yang
beriman adalah orang-oran yang selalu berbicara dalam kebaikan. Atau
dapat juga dikatakan bahwa orang-orang yang suka berkata keji itu
bukanlah termasuk ke dalam golongan orang-orang yang beriman. Untuk itu,
jika seseorang mengaku bahwa dirinya telah beriman kepada Allah swt
maka tidak ada lagi kata-kata keji yang akan terlontar dari mulutnya.
6. Tidak memotong maupun memonopoli pembicaraan
Berikanlah kesempatan kepada orang lain atau teman untuk menyampaikan gagasan, pendapat atau curhatannya.
Jangan suka memonopoli pembicaraan orang lain tau teman kita. Sikap memonopoli pembicaraan dapat menyinggung perasaan
pendengar, karena ia merasa dianggap bodoh dan tidak tahu apa-apa.
Tunggulah hingga lawan bicara menyelesaikan pembicaraannya, jangan
menyela atau memotong ucapannya. Tentunya hal ini akan membuat kesal dan
tersinggung lawan bicara. Anda akan dianggap tidak memiliki etika jika
memotong pembicaraan seseorang.
Demikianlah Islam telah mengatur etika atau adab-adab dalam berbicara
agar pembicaraan tidak menjadi sebuah media yang akan menjerumuskan
seseorang dalam kubangan dosa, namun menjadi media yang akan membawa
seseorang dan umat menuju rahmat dan surganya Allah swt.
Baiklah teman-teman bahwa perlu kita ketahui bahwa etika itu
sangatlah penting dalam kehidupan kita sehari-hari terutama etika dalam
berbicara. Semoga apa yang saya sampaikan ini dapat bermanfaat dan
memberikan motivasi untuk kita semua. Amin.
Assalamu'alaikum wr.wb
Tidak ada komentar:
Posting Komentar